Rabu, 05 November 2008

Flour Albus
(Keputihan)
Pendahuluan
Wanita, dengan segala keunikannya memang tidak akan pernah ada habisnya untuk diperbincangkan. mulai dari masa pubertas terjadi perubahan fisik karena pengaruh hormone seperti pembesaran payudara, tumbuhnya bulu pada ketiak dan organ genitalia, tumbuh jerawat dan yang paling utama adalah menstruasi pertama atau menarche sampai masa kehamilan dan menopause. Peristiwa yang dilalui oleh para wanita ini tidak selamanya menyenangkan karena sering kali dapat menimbulkan masalah apabila kurangnya penanganan akibat kelalaian yang disengaja ataupun tidak terutama yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.
Pada studi kasus fisiologi reproduksi, kita akan membahas salah satu kejadian yang seringkali dianggap masalah oleh para wanita, yaitu Keputihan atau Flour Albus. Banyak wanita mengeluhkan keputihan. Sangat tidak nyaman. Gatal, berbau, bahkan terkadang perih. Usut punya usut, ternyata itu berkait dengan kebiasaan sehari-hari. Salah satu penyebab keputihan adalah masalah kebersihan di sekitar organ intim. Umumnya wanita sangat peduli dengan kebersihan, terutama yang berhubungan dengan penampilan. Setiap hari tidak lupa mandi dan selalu telaten menyingkirkan sisa-sisa make up dari wajah, rajin pedicure, medicure, creambath di salon seminggu sekali dan lain-lain. Tapi, bila ditanya apakah setelaten itu pula kaum Hawa menjaga kebersihan organ kewanitaannya? Harus kita akui tidak semua wanita melakukannya. Contoh, entah berapa banyak wanita yang tidak mengeringkan bagian organ intimnya seusai buang air kecil. memangnya apa hubungan mengeringkan organ genitalia seusai buang air kecil dengan keputihan???
Pengertian
Keputihan atau leukore /flour albus adalah cairan bukan darah yang keluar dari vagina/ secara berlebihan. Dalam keadaan normal, cairan ini tidak sampai mengganggu, namun bila mulai mengganggu harus dipikirkan dengan suatu penyakit.
Penyebab Keputihan
Penyebab keputihan antara lain :
1. Infeksi bakteri : Klamidia, gonore, sifilis, vaginosis bakterialis
2. Infeksi jamur : Candida albicans
3. Infeksi protozoa : Trikomonas vaginalis
4. Infeksi virus : Herpes simpleks, HPV:
Keputihan terbagi dua yaitu fisiologis (normal) dan patologis (tidak normal). keputihan yang bersifat fisiologis biasa ditemukan pada bayi baru lahir, wanita yang baru pertama kali haid, keputihan dapat terjadi pada saat hamil, wanita dewasa yang dirangsang seksual, pada masa subur, dan saat banyak melakukan aktivitas fisik yang kesemuanya tidak menimbulkan keluhan tambahan seperti bau, gatal, dan perubahan warna. Sedangkan keputihan patofisiologis penyebabnya adalah tumor jinak atau ganas, infeksi mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi seperti iritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi. Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual terutama dengan partner yang berganti-ganti. Sementara infeksi jamur Candida sp yang secara normal ada dalam saluran cerna dan vagina, dapat terjadi karena pertumbuhan yang berlebihan akibat berbagai faktor, salah satunya adalah kehamilan yang menimbulkan kondisi terjadinya penurunan imunitas tubuh dan juga kurangnya kebersihan vagina.
1.4 Gejala keputihan
Gejala-gejalanya yaitu keluar cairan berwarna putih kekuningan, putih keabuan, kuning kehijauan/ kecoklatan dan berbusa, encer atau kental, berbau, gatal, nyeri saat berkemih, nyeri saat berhubungan, rasa terbakar, kadang ada perdarahan. Bila keputihan tidak diobati dan menyebabkan infeksi/radang panggul yang akhirnya dapat menyebabkan kemandulan, hamil di luar kandungan atau bahkan menjadi suatu penyakit yang lebih membahayakan.
A. Keputihan pada wanita hamil
Umumnya penyebab keputihan tersering pada wanita hamil adalah infeksi jamur Candida sp. Wanita hamil dapat terkena keputihan sejak awal kehamilan hingga trimester akhir menjelang persalinan. Namun pada keputihan karena infeksi jamur, akan lebih berat terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan karena pada saat tersebut kelembaban vagina paling tinggi. Selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan terjadinya keputihan pada janin. Namun bila saat persalinan masih terdapat infeksi, maka dampak keputihan yang terjadi tergantung penyebabnya, dimana bayi akan terkontak dengan penyebab keputihan tersebut.
Pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur). Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan.
Pada keputihan yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi, tentunya infeksi yang berlanjut dan tergantung penyebabnya, dapat mengganggu kesehatan ibu hamil. Misalnya bila terjadi infeksi Chlamydia pada kehamilan, dapat terjadi pecahnya selaput ketuban sebelum masa persalinan. Hal ini berakibat terjadinya infeksi pada janin dan juga pada ibu yang dapat menyebabkan infeksi berat hingga kematian.
Pada keputihan yang normal boleh saja melakukan hubungan seksual. Namun pada kondisi sedang terjadi masalah apalagi bila masalah tersebut ada infeksi, maka hubungan seksual harus dihindari hingga masalah selesai.
Diperlukan terapi pada pasangan baik wanita dan pria bila infeksi yang terjadi disalah satu dan keduanya, agar penanganan tuntas dan tidak terjadi fenomena pingpong. Disebut fenomena pingpong karena infeksi pada perempuan yang juga ada pada pasangan prianya menginfeksi kembali pihak perempuan setelah perempuan tersebut sembuh dengan pengobatan sebelumnya.
Penyebab eksternal keputihan
Cairan pencuci vagina yang bersifat antiseptik kuat atau bila dilakukan pemasukan cairan pencuci vagina dalam jumlah besar ke dalam vagina (douche) dapat merusak flora normal vagina sehingga menyebabkan jamur dan bakteri patogen mudah tumbuh. Sehingga untuk memilih cairan pencuci vagina, sebaiknya dipilih cairan pencuci vagina yang mempunyai keasaman sesuai dengan vagina dan penggunaannya hanya untuk di bagian luar vagina.
Tanda yang mudah dilihat untuk menentukan cairan vagina yang tidak normal ialah dengan adanya perubahan pada warna, jumlah dan bau cairan tersebut. Ia juga menyebabkan rasa gatal yang amat sangat, di samping vagina menjadi hiperemia, rasa pedih atau rasa terbakar sewaktu kencing dsb.
Infeksi Jamur Candida
Adalah masalah keputihan yang paling sering terjadi, disebabkan oleh sejenis jamur yang disebut Candida sp seperti Candida albicans. Cairan yang dikeluarkan adalah pekat berwarna putih seperti susu. Penderita akan mengalami gatal di vagina di samping menghadapi masalah tidak nyaman sewaktu buang air kecil atau sewaktu mengadakan hubungan intim.
Jamur ini memang secara normal ada dalam vagina tetapi ia tidak menyebabkan masalah apa-apa. Hal ini disebabkan oleh karena pertumbuhannya di”saingi” oleh bakteri Lactobaccilus yang juga menduduki tempat yang sama sehingga terjadi “Keseimbangan”.
Masalah akan mulai timbul bila minum antibiotik yang membunuh bakteria tetapi tidak membunuh jamur atau pencucian vagina dengan bahan-bahan yang menyebabkan bakteri mati secara berlebihan. Hal ini menyebabkan jamur tersebut berkembang dengan cepat karena tidak ada lagi saingannya. Terlebih bila ada penurunan imunitas tubuh seperti pada infeksi HIV/AIDS, maka candida akan merajalela.
Obat yang digunakan adalah anti jamur yang dapat di minum ( oral ) atau obat bentuk ovula yang dimasukkan kedalam vagina ( suppositoria ). Obat ovula ini dimasukkan dalam vagina sedalam mungkin dan digunakan sebelum tidur.
Infeksi bakteri seperti Gardnerella vaginosis
Sama seperti Infeksi jamur tetapi discharge biasanya berwarna putih atau kekuningan dan berbau seperti bau ikan. Penggunaan antibiotik baik secara oral ataupun ovoid dapat digunakan.
Infeksi Penyakit Menular Seksual
Infeksi yang disebabkan oleh hubungan kelamin memerlukan perawatan yang perlu dilakukan kepada kedua pasangan, baik pasangan tersebut menunjukkan tanda-tanda infeksi atau tidak. Penyakit ini bila tidak mendapatkan penanganan yang segera dan baik dapat menyebabkan infeksi pada saluran kencing dan juga kemandulan.
Penyebabnya antara lain infeksi parasit Trichomonas, Chlamydia, virus Herpes dan bakteria Gonorrhoea. Trichomonas dan Chlamydia menyebabkan rasa gatal dan pedih. Selain itu discharge tidak berwarna tetapi berbau busuk. Infeksi kuman Gonorrhoea juga menyebabkan discharge yang berwarna kehijauan ataupun kecoklatan.
CARA PENCEGAHAN
Harus kita sadari terkadang kita lupa untuk mengeringkan organ genitalia sesudah buang air, entah disengaja atau tidak.. Usai dibasuh langsung mengenakan celana dalam. Alhasil celana ikut basah, akibatnya vagina ‘terperangkap’ dalam suasana lembab. Organ intim wanita, seperti vagina sangat sensitif dengan kondisi lingkungan. Walaupun letaknya tersembunyi dan tertutup, vagina harus terjaga dengan baik. Kondisi yang terlalu lembab akan mengundang berkembangbiaknya jamur dan bakteri patogen. Inilah salah satu penyebab keputihan. Bila ingin terhindar dari keputihan, Anda mesti menjaga kebersihan daerah sensitif itu. Kebersihan organ kewanitaan hendaknya sejak bangun tidur dan mandi pagi. Bagaimana caranya?Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
Kebersihan diri terutama di daerah genital hendaklah diutamakan. Basuh tangan sebelum dan setelah menyentuh alat kelamin.
Setelah buang air besar, bersihkan dari bagian depan ke belakang, agar kuman dari belakang tidak berpindah ke vagina.
Penggunaan vaginal douche seperti Lactacyd dsb sebaiknya tidak dilakukan karena penggunaannya dapat membunuh ‘bakteria baik’ yang ada di vagina. Douching tidak dianjurkan selama hamil.
Dianjurkan untuk memakai celana dalam yang baik sirkulasi udaranya (katun 100%) serta ganti celana dalam dengan teratur. Bisa juga memakai pembalut khusus untuk ini, yang biasa disebut panty liner, namun ingat untuk sering menggantinya.
Apabila terasa gatal, hindari pemakaian sabun, tetapi cuci dengan bersih memakai air hangat. Meski rasa gatal sangat kuat, hindari mencuci sampai bagian dalam vagina, karena ini akan menghilangkan bakteri yang berguna sehingga akan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang memiliki efek negatif atau jamur. Jadi cukup cuci dan siram dengan air hangat bagian luar saja.
Pengobatan Flour Albus
1. Pesarium dan Krim
Merupakan cara yang efektif untuk mengobati keputihan dengan cara dioleskan pada bidang yang terkena infeksi. Ada beberapa macam pesarium yang bisa digunakan untuk mengobati keputihan yaitu canesten, daktarin, gyno-daktarin, pevaryl, gyno-pevaryl, dan ecostatin. Obat- obat tersebut bisa menghilangkan gajala keputihan dalam beberapa jam walaupun tidak mungkin bebas dari keputihan sama sekali selama paling sedikit 2 hari.
2. Gel vagina
Gel dimasukkan jauh ke dalam vagina dengan satu indicator khusus. Betadine adalah salahsatu gel semacam itu.
3. Tablet Oral
Obat ini bekerja dengan memusnahkan jamur di dalam tubuh. Tablet oral biasanya memiliki sedikit efek dalam meredakan keputihan karena tablet oral seperti nystan harus digunakan bersama krim local dan atau pesarium. Nizoral mrupakan suatu jenis preparat oral yang relative baru, berisikan obat ketoconazole yaitu suatu antibiotika anti jamur. Pemakaian nizoral biasanya berlangsung selama 7 hari bila mengalami keputihan yang buruk. Efek merugikan dari nizoral adalah rasa mual, gangguan perut, dan rasa gatal. Nizoral tidak boleh digunakan selama kehamilan.
4. Bubuk Obat
Keputihan juga diobati dengan bubuk obat, seperti nystan atau mysil. Penaburan yang sering pada bagian genital merupakan cara yang ideal untuk membantu mencegah serangan keputihan yang berulang.
5. Tampon Obat
Merupakan satu alternative lain dari pesarium dan gel vagina. Tampon obat bisa digunakan selama masa haid dengan demikian tampon ideal bagi wanita yang keputihannya cenderung muncul kembali setelah haid atau bagi penderita yang menjadi lebih rentan terhadap infeksi jamur selama mensturasi. Pesarium dan gel vagina cenderung menjadi kotor sedangkan tampon menjaga agar obat tetap berada dalam tubuh
6. Gentian Violet
Mencat vagina dan serviks dengan gentian violet merupakan pngobatan kuno yang masih digunakan oleh dokter untuk mengobati keputihan. Cara ini efektif juga sangat sederhana tanpa nyeri, dan murah. Gentian violet mengandung bahan celup ungu yang akan menodai apapun yang bersentuhan dengannya.
7. Asam Laktat
Asam laktat adalah salah satu pengobatan keputihan yang tertua. Asam laktat bekerja dengan memulihkan keasaman alamiah vagina. Asam laktat berbentuk cairan dan penderita bisa menggunakannya sebagai kegiatan rutin pertolongan diri sendiri.
Ada beberapa herbal yang khasiatnya telah terbukti secara empiris untuk pengobatan keputihan, seperti : sambiroto, tapak liman, temu putih, temu kunci, temu lawak dan daun sirih untuk obat luar
Daftar Pustaka
Clayton, Caroline.1986.Keputihan dan Infeksi Jamur Kandida lain.Jakarta.Archan
Djuanda, Adhi. 1987. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Nita.2008.Keputihan pada wanita hamil.
http://www.mediastore.com/
Brunner&Suddarth.1997.Keperawatan medikal Bedah.ECG.Jakarta
Poskan Komentar