Selasa, 16 Juni 2009

Atrial Septal Defect

Ø Defenisi

Atrial Septal Defect adalah adanya defek (lubang) pada sekat atrium kanan dan kiri yang memisahkan kedua atrium tersebut. Ketidaknormalan pada sekat atrium ini menyebabkan adanya aliran darah di antara atrium kanan dan atrium kiri.

Berdasarkan letak lubang, defek septum atrium dibagi atas 3 tipe yaitu :

1. Defek septum atrium sekundum, bila lubang terletak di daerah fossa ovalis;

2. Defek septum atrium primum, bila lubang terletak di daerah ostium primum (termasuk salah satu bentuk defek septum atrioventrikuler);

3. Defek sinus venosus, bila lubang terletak di daerah sinus venosus (dekat muara vena kava superior atau inferior).

Defek septum atrium sering tidak ditemukan pada pemeriksaan rutin karena keluhan baru timbul pada dekade 2-3 dan bising yang terdengar tidak keras. Penderita defek septum atrium seringkali disertai bentuk tubuh yang tinggi dan kurus, dengan jari-jari tangan dan kaki yang panjang. Aktivitas ventrikel kanan meningkat dan tak teraba thrill. Bunyi jantung 1 mengeras, bunyi jantung II terpisah lebar dan tidak mengikuti variasi pernafasan (wide fixed split). Bila terjadi hipertensi pulmonal, komponen pulmonal bunyi jantung kedua mengeras dan pemisahan kedua komponen tidak lagi lebar. Terdengar bising sistolik ejeksi yang halus disela iga II parasternal kiri. Bising mid-diastolik mungkin terdengar di sela iga IV parasternal kiri, sifatnya menggenderang dan meningkat dengan inspirasi. Bising ini terjadi akibat aliran melewati katup trikuspid yang berlebihan, pada defek yang besar dengan rasio aliran pirau (shunt) interatrial lebih dari 2. Bising pansistolik regurgitasi mitral dapat terdengar di daerah apeks pada defek septum atrium primum dengan celah pada katup mitral atau pada defek septum atrium sekundum yang disertai prolaps katup mitral.

Ø Patofisiologi

Defek pada sekat atrium akan menyebabkan aliran (shunting) darah dari atrium kiri menuju atrium kanan hal ini karena compliance ventrikel kanan yang lebih besar (bertekanan rendah) dibanding ventrikel kiri. Besarnya shunting bergantung terhadap seberapa besar perbandingan compliance (relatif) ventrikel kanan terhadap ventrikel kiri, dan juga bergantung pada besar-kecilnya defek.

Akibatnya adalah terjadi kelebihan volume darah (volume-overload) pada jantung kanan yang pada akhirnya menyebabkan pembesaran atrium dan ventrikel kanan serta dilatasi arteri pulmonalis. Juga terjadi peningkatan tekanan pada vaskularisasi paru atau yang dikenal 'hipertensi pulmonal' akibat kelebihan volume darah pada paru (lung overflow).

Dilatasi ventrikel kanan mengakibatkan waktu depolarisasi ventrikel kanan memanjang yang akan memberikan gambaran blok RBBB (right bundle branch block) pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) ­

Murmur yang terjadi bukan karena shunting di atrium, tetapi oleh karena terjadinya turbulensi darah saat melewati katup arteri pulmonalis (stenosis relatif katup pulmonal). Oleh sebab itu murmur yang terjadi adalah murmur sistolik di area auskultasi pulmonal. Gagal jantung kongestif (CHF) dan hipertensi pulmonal seringkali baru terjadi pada usia dekade III dan IV oleh karena faktor compliance dari jantung kanan dan arteri pulmonal yang besar.

Ø Etiologi

Kelainan jantung karena ASD belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan terjadinya kelainan jantung ini yaitu:

1. Faktor Prenatal

· Ibu menderita infeksi Rubella

· Ibu alkoholisme

· Umur ibu lebih dari 40 tahun

· Ibu menderita IDDM (Insuline Dependent Diabetes Mellitus)

· Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu

2. Faktor genetik

· Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB (Penyakit Jantung Bawaan)

· Ayah atau ibu menderita PJB

· Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down

· Lahir dengan kelainan bawaan lain

Ø Manifestasi Klinik

Pasien mungkin asimtomatik. Dapat juga berlanjut menjadi CHF, adanya karateristik dari pada murmur. Pasien berisiko terjadi disritmia dan penyakit obstruksi pembuluh darah pulmonal yang selanjutnya terjadi emboli karena peningkatan aliran darah paru yang kronis.

Ø Penatalaksanaan

Sebagian besar pasien dengan ASD tidak menunjukkan keluhan. Pada bayi sebelum usia 3 bulan, defek berukuran <>endokarditis infektif.

Ø Proses Keperawatan

1. Pengkajian

a. Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.

b. Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.

c. Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:

Inspeksi:

· Status nutrisi: gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.

· Warna: sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.

· Deformitas dada: pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.

· Pulsasi tidak umum: terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.

· Ekskursi pernapasan: pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).

· Jari tabuh: berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.

· Perilaku: memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.

Palpasi dan perkusi :

· Dada: membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)

· Abdomen: hepatomegali atau plenomegali mungkin terlihat.

· Nadi perifer: frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.

Auskultasi

· Jantung: mendeteksi adanya murmur jantung.

· Frekwensi dan irama jantung: menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.

· Paru-paru: menunjukkan ronki kering kasar, mengi.

· Tekanan darah: penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)

· Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian: misalnya; EKG, radiografi, kokardiografi, fluoroskopi, ltrasonografi,

angiografi, analisis darah jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.

2. Diagnosa Keperawatan

a) Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.

b) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen

c) Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.

d) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)

e) Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.

f) Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi.

3. Rencana asuhan keperawatan

1. Diagnosa keperawatan :

Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
Tujuan :

Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung.

Kriteria hasil :

a. Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia.

b. Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kgbb, bergantung pada usia)

Intervensi keperawatan/rasional:

a. Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.

Rasional:

membantu mempertahankan curah jantung yang adekuat.

b. Beri obat penurun afterload sesuai program.

Rasional:

Berguna untuk menurunkan kekuatan yang melawan kontraksi otot jantung

c. Beri diuretik sesuai program

Rasional:

Membantu proses berkemih agar lebih lancar.

2. Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen

Tujuan :

Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan.

Kriteria hasil :

a. Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.

b. Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat.

Intervensi keperawatan/rasional:

a. Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.

Rasional:

Membantu pemulihan energi.

b. Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.

Rasional:

Meminimalisasikan energy yang terbuang.

c. Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.

d. Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.

Rasional:

Membantu mengatasi gangguan transport oksigen.

e. Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.

Rasional:

Ansietas dapat mengganggu transport oksigen.

f. Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.
Rasional:

Mencegah agar tidak terjadinya ansietas

3. Diagnosa keperawatan : Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.

Tujuan :

Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan.
Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia

Kriteria hasil :

a. Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat.

b. Anak melakukan aktivitas sesuai usia.

c. Anak tidak mengalami isolasi sosial.

Intervensi Keperawatan/rasional:

a. Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.

Rasional:

Membantu pemenuhan nutrisi klien.

b. Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.

Rasional:

Mencari tahu kesesuaian tinggi dan berat badan dengan pertumbuhan.

c. Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.

d. Dorong aktivitas yang sesuai dengan usia.

Rasional:

Membantu proses pertumbuhan.

e. Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.

Rasional:

Agar tidak mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangannya.

f. Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.

4. Diagnosa keperawatan : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.

Tujuan :

Klien tidak menunjukkan bukti-bukti infeksi

Kriteria hasil :

Anak bebas dari infeksi.

Intervensi Keperawatan/rasional:

a. Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi

Rasional:

Mencegah agar tidak terjadi infeksi baru pada klien.

b. Beri istirahat yang adekuat.

Rasional:

Membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

c. Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.

Rasional:

Membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

5. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi

Tujuan :

Klien/keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini.

Kriteria hasil :

a. Keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat.

b. Klien / keluarga menunjukkan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan.

Intervensi keperawatan/rasional:

a. Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi :

Gagal jantung kongestif :

- Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas ringan.

- Takipnea.

- Keringat banyak di kulit kepala, khususnya pada bayi.

- Keletihan.

- Penambahan berat badan yang tiba-tiba.

- Distress pernapasan.

Toksisitas digoksin

- Muntah (tanda paling dini).

- Mual.

- Anoreksia.

- Bradikardi.

Disritmia
Peningkatan upaya pernapasan - retraksi, mengorok, batuk, sianosis.

Hipoksemia – sianosis, gelisah.

Kolaps kardiovaskular – pucat, sianosis, hipotonia.

Rasional:

Agar dapat dilaksanakannya tindakan yang tepat jika terjadi komplikasi.

b. Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik:

- Tempatkan anak pada posisi lutut-dada dengan kepala dan dada ditinggikan.

- Tetap tenang.

- Beri oksigen 100% dengan masker wajah bila ada.

- Hubungi tenaga kesehatan.

Rasional:

Dapat memberikan pertolongan pertolongan pertama saat terjadinya serangan hipersianotik.

c. Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.

d. Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur.

e. Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.

f. Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan.

6. Diagnosa Keperawatan : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)

Tujuan :

- Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas

- Klien menunjukkan perilaku koping yang positif

Kriteria hasil :

- Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya

- Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif

Intervensi Keperawatan/rasional :

a. Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.

b. Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.

c. Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.

d. Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak.

4. Evaluasi

Proses : langsung setalah setiap tindakan

Hasil : tujuan yang diharapkan antara lain:

· Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia

· Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia

· Anak bebas dari komplikasi pascabedah.




Referensi

Buku Ajar KEPERAWATAN KARDIOVASKULER (2001), Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, Jakarta.

Anonim1. 2008. Asuhan Keperawatan Anak dengan ASD.

http://contoh-askep.blogspot.com/2008/07/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan_22.html

Anonim2.2008. Atrial Septal Occluder(ASO): Terapi Intervensi Nonbedah ASD

http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=990

Poskan Komentar