Minggu, 27 September 2009

Analgesik KOKAIN
Tugas Farmakologi





Oleh
Galih Candra Dewi 462007006
Novi winarni 462007018
Reyes A I Nenomataus 462007021
Jared N Kollo 462007024
Kristiani Tauho 462007026
Marleni Marambandima 462007030
Welri Sucahyono 462007033
Ida Istyarini 462007069


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2009

KOKAIN
Definisi
Kokain adalah zat yang adiktif yang sering disalahgunakan dan merupakan zat yang sangat berbahaya. Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari tanaman belukar Erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan, dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyah-kunyah oleh penduduk setempat untuk mendapatkan efek stimulan.
Saat ini Kokain masih digunakan sebagai anestetik lokal, khususnya untuk pembedahan mata, hidung dan tenggorokan, karena efek vasokonstriksifnya juga membantu. Kokain diklasifikasikan sebagai suatu narkotik, bersama dengan morfin dan heroin karena efek adiktif dan efek merugikannya telah dikenali.
Nama Farmakologi: Cocaine
Nama lain: Coke, Crack, Rock Cocaine
Terdeteksi pada urin dalam waktu : 1 - 3 hari
Disekresi dalam urine sebagai : Benzoytecgonine
1.Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja utama efek kokain dipusat ataupun perifer adalah menghambat ambilan balik norepinefrin, serotonin, dan dopamine kembali ke terminal presinaptik tempat transmitter tersebut dilepaskan. Penghambatan ini memperkuat dan memperpanjang kerja katekolamin pada SSP dan susunan saraf perifer. Sebagian, pemanjangan efek dopaminergik paling banyak terjadi pada sistem yang membawa kenikmatan dalam otak (system limbik), menghasilkan rasa gembira yang berlebihan akibat pengaruh kokain. Penggunaan kronik akan menghabiskan dopamin. Kekosongan ini akan menimbulkan siklus visius, ingin mendapatkan kokain yang akan menghilangkan depresi berat untuk sementara.

2.Kerja
a. SSP: Efek Kokain pada tingkah laku merupakan akibat dari rangsangan kuat pada korteks dan sambungan otak. Kokain meningkatkan kesadaran mental dan memberikan perasaan sehat, dan euforia yang serupa dengan yang disebabkan oleh amfetamin. Seperti amfetamin, kokain dapat menimbulkan halusinasi, delusi, dan paranoid. Kokain memacu aktivitas motorik dan pada dosis tinggi dapat menyebabkan tremor dan bangkitan kejang yang diikuti depresi pernapasan dan vasomotor.
b.Sistem Saraf Simpatik : Di perifer, kokain memperkuat kerja norepenefrin dan menghasilkan sindrom “ melawan atau lari ” (fight or flight) yang khas untuk stimulasi adrenergic. Ini ada hubungannya dengan takikardia, hipertensi, dilatasi pupil, dan vasokonstriksi perifer.

3. Penggunaan dalam terapi
Kokain bekerja sebagai anestetik lokal yang merupakan kegunaan kokain dalam terapi secara rasional; Kokain diberikan setempat dengan anstetik lokal selama tindakan bedah mata, telinga, hidung, tenggorokan. Kerja anastetik kokain ini disebabkan hambatan saluran natrium yang diaktifkan oleh voltase, suatu interaksi dengan saluran kalium menambah kemampuan kokain untuk menyebabkan aritmia jantung.
Catatan: kokain adalah satu-satunya anestesi lokal yang menyebabkan vasokonstriksi. Efek ini menyebabkan nekrosis dan perforasi pada septum hidung yang kelihatan pada orang-orang yang mengendus tepung kokain secara kronis.

4. Farmakokinetik
Kokain digunakan sendiri dengan mengunyah, mengendus dengan hidung, merokok dan suntikan Intra Vena. Efek puncak terjadi setelah 15-20 menit sehabis mengendus tepung kokain dan menurun setelah 1-1,5 jam. Efek yang cepat tetapi berjangka waktu pendek diperoleh setelah suntikan intravena kokain atau merokok bentuk basa bebas (“crack”). Karena terjadinya efek sangat cepat, kemungkinan takar lajak dan ketergantungan paling besar dengan suntuikan intravena dan mengisap crack. Absorpsi dilakukan dari segala tempat termasuk selaput lendir. Pada pemberian oral kokain tidak efektif karena di dalam usus sebagian besar mengalami hidrolisis. Sebagian besar mengalami detoksikasi dihati dan sebagian kecil di ekskresi bersama urin dalam bentuk utuh. Diperkirakan hati dapat melakukan detoksikasi kokain sebanyak 1 dosis letal minimal dalam waktu 1 jam. Detoksikasi kokain tidak secepat detoksikasi anestesi local sintetik.

5. Efek Samping
a. Ansietas: Respon toksik atas pemasukan kokain dapat mempercepat efek reaksi ansietas termasuk hipertensi, takikardia, berkeringat, dan paranoid.
b. Depresi : Seperti obat stimulant lain, stimulasi kokain pada SSP diikuti oleh periode depresi mental. Pecandu yang menghentikan pemakaian kokain memperlihatkan depresi emosional dan fisik serta agitasi. Gejala ini dapat di obati dengan benzodiazepine atau fenotiazin.
c. Penyakit Jantung : Kokain dapat memicu terjadinya kejang dan aritmia jantung yang fatal. Diazepam intravena barangkali diperlukan untuk mengobati kejang akibat kokain dan propanolol untuk aritmia jantung. Terjadinya infark miokard pada pengguna kokain tidak ada hubungannya dengan dosis atau lama penggunaan dan cara pemberian obat. Tidak ada tanda untuk mengetahui apakah seseorang akan mengalami gangguan jantung yang membahayakan setelah menggunakan kokain.
Efek yang ditimbulkan
Kokain digunakan karena secara karakteristik menyebabkan elasi, euforia, peningkatan harga diri dan perasan perbaikan pada tugas mental dan fisik. Kokain dalam dosis rendah dapat disertai dengan perbaikan kinerja pada beberapa tugas kognitif.
Gejala Intoksikasi Kokain
Pada penggunaan Kokain dosis tinggi gejala intoksikasi dapat terjadi, seperti agitasi iritabilitas gangguan dalam pertimbangan perilaku seksual yang impulsif dan kemungkinan berbahaya agresi peningkatan aktivitas psikomotor Takikardia Hipertensi Midriasis. Diperkirakan besarnya dosis fatal adalah 1,2 gram, tetapi keracunan hebat dengan dosis 20 mg pernah dilaporkan.
Gejala Putus Zat
Setelah menghentikan pemakaian Kokain atau setelah intoksikasi akut terjadi depresi pascaintoksikasi (crash) yang ditandai dengan disforia, anhedonia, kecemasan, iritabilitas, kelelahan, hipersomnolensi, kadang-kadang agitasi. Pada pemakaian kokain ringan sampai sedang, gejala putus Kokain menghilang dalam 18 jam. Pada pemakaian berat, gejala putus Kokain bisa berlangsung sampai satu minggu, dan mencapai puncaknya pada dua sampai empat hari. Gejala putus Kokain juga dapat disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Orang yang mengalami putus Kokain seringkali berusaha mengobati sendiri gejalanya dengan alkohol, sedatif, hipnotik, atau obat antiensietas seperti diazepam ( Valium ).
Dampak penyalahgunaan kokain
Dampak fisik kokain:
1)Menghambat penyampaian rangsangan kepada susunan syaraf tepi, sehingga memberi dampak anastesi.
2)Merangsang susunan syaraf pusat.
3)Meningkatkan kadar katekolamin dalam otak sehingga memberi dampak euphoric.
4)System cardiovascular (sistem peredaran jantung dan peredaran darah).
5)Dosis rendah meningkatkan kinerja motorik dan melambatkan denyut jantung.
6)Dosis tinggi meningkatkan denyut jantung dan menimbutkan kejang dan tekanan darah tinggi serta detak jantung tidak teratur.

Dampak psikis keracunan kokain
1)Rasa gembira berlebihan (euphoria).
2)Gejala psikosis seperti skizofrenia (gangguan mental kepribadian/ waham masuk akal).
3)Rasa bahagia.
4)Meningkatkan rasa percaya diri.
5)Banyak bicara.
6)Berkurangnya rasa lelah.
7)Mengurangi rasa kantuk.
8)Halusinasi penglihatan dan pendengaran.
9)Rasa curiga berlebihan.
10)Menimbulkan gejala psikosis (gangguan mental kepribadian mental/ waham tidak masuk akal).
Overdosis kokain
1) Kesadaran kabur.
2) Pernafasan tak teratur.
3) Gemetaran.
4) Pupil mata melebar.
5) Denyut nadi meningkat.
6) Tekanan darah meningkat.



Daftar pustaka
Mycek, J. Mary. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Jakarta: Wydia Medika
Poskan Komentar