Minggu, 27 September 2009

Masalah Lingkungan di Indonesia dan Solusinya

TUGAS AKHIR ILMU ALAM DASAR





Oleh :
KRISTIANI D TAUHO
462007026



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2009

Opini » Bencana Alam dan Lingkungan
 
Kerusakan Bumi dan Fenomena Bencana Alam
Ani Purwati - 22 Apr 2009
Kondisi alam di bumi ini semakin memprihatinkan. Di saat memperingati Hari Bumi yang jatuh setiap 22 April ini pun, berbagai pihak menghimbau dan mengadakan aksi untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lebih lanjut. Dimana telah mengakibatkan berbagai bencana alam seperti banjir, longsor, kekeringan (krisis air), tsunami dan sebagainya.
Menurut laporan Federasi Palang Merah Internasional (IFRC) (12/12/2007), sebagian besar bencana alam yang terjadi di dunia sepanjang 2007 merupakan dampak dari pemanasan global. Setiap tahun, jumlah bencana alam naik hampir 20 persen dari tahun sebelumnya. Hingga 10 Oktober 2007, Federasi telah mencatat ada 410 bencana dan 56 persen dari jumlah itu disebabkan oleh perubahan cuaca atau iklim.
Pada 2006, IFRC mencatat 427 bencana alam. Angka tersebut meningkat sebesar 70 persen dalam dua tahun sejak 2004. Selama 10 tahun terakhir, jumlah bencana alam meningkat 40 persen dari dekade sebelumnya. Sedangkan angka kematian yang disebabkan oleh bencana alam meningkat dua kali lipat menjadi 1,2 juta orang dari 600.000 pada dekade sebelumnya. Jumlah korban bencana alam juga meningkat setiap tahun. Tahun 2007, 270 juta orang menjadi korban bencana alam sedangkan tahun sebelumnya 230 orang (Suara Pembaruan, 2007).
Di Indonesia sendiri telah berulang kali terjadi bencana banjir, longsor, banjir pasang naik, gempa, tsunami, bahkan beberapa saat lalu telah terjadi musibah jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang, Banten akibat tidak kuat menahan tekanan air hujan yang tertampung.
Menurut laporan Walhi, antara tahun 2006-2008, di Indonesia sedikitnya telah terjadi 840 peristiwa bencana alam. Sedang periode sebelumnya, antara 1998 hingga 2003 tercatat sebanyak 647 bencana. Data bencana dari Bakornas Penanggulangan Bencana antara tahun 2003-2005 tercatat terjadi 1.429 bencana. Artinya, antara 1998 hingga 2008 terdapat indikasi peningkatan peristiwa bencana.
Di Sumatera Selatan (Sumsel) saja, sepanjang tahun 2008 telah terjadi 30 kali bencana alam, antara lain bencana banjir, angin puting beliung, tanah longsor, serta kebakaran rumah warga maupun lahan. Bencana alam banjir sebanyak tiga kali terjadi antara lain di Kabupaten Musi Rawas, Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Ogan Ilir. Sedangkan tahun 2009 hingga saat ini telah terjadi bencana alam sebanyak enam kali, antara lain banjir di Kabupaten Ogan Ilir termasuk di wilayah Kota Palembang (Regional Roll, 2009).

Tak ayal penyerapan dana bencana alam pun meningkat. Di awal 2009 sekarang saja, dana bencana alam di Departemen Sosial tahun 2009 sudah terserap sebanyak Rp 300 milliar dari Rp 400 miliar yang dianggarkan. Artinya yang tersisa pada Februari 2009 hanya Rp 100 milliar.
Berbagai bencana alam sebagai fenomena pemanasan global tersebut menurut peneliti yang juga dosen senior dari Fakultas Kehutanan UGM Ir San Afri Awang M.Sc (2008) merupakan dampak dari degradasi hutan. Bahkan dikawatirkan jika degradasi dan deforestasi hutan terus berlanjut sekiranya 20% pulau di wilayah Indonesia akan tenggelam seiring dengan naiknya suhu dan cuaca sekitar dua derajat celcius akibat pemanasan global.
Demikian juga krisis air yang telah terjadi saat ini akan semakin parah. Menurut Hidayat Pawitan, Profesor Hidrologi Sumber Daya Air dari Institut Pertanian Bogor (IPB) (Kapanlagi.com, 2009), ketersediaan air permukaan di Pulau Jawa dan Bali sudah berada pada titik kritis, dengan perbandingan tingkat penggunaan dan ketersediaan air lebih dari 50%.
Berdasarkan neraca penggunaan air nasional sudah lebih dari 50 persen indeksnya, ini sudah kritis. Indeks ketersediaan air yang aman kurang dari 30%. Saat ini ketersediaan air di Jawa dan Bali sekitar 126.451 juta meter kubik dengan total kebutuhan air 65.840 juta meter kubik, dimana 80% di antaranya digunakan untuk keperluan irigasi.
Hal itu terjadi karena Pulau Jawa dan Bali telah mengalami perubahan signifikan dalam aspek sosio-ekonomi, lingkungan, klimatologi serta hidrologi yang secara langsung mempengaruhi ketersediaan air permukaan. Kebutuhan air di kawasan itu semakin meningkat, seiring pertumbuhan populasi dan peningkatan polusi, sementara kemampuan lahan untuk menahan dan menyimpan air makin rendah, akibat deforestasi dan kerusakan lahan.
Deforestasi dan kerusakan lahan telah meningkatkan koefisien limpasan (perbandingan antara volume limpasan dan volume curah hujan), dan menurunkan kemampuan tanah menahan air hujan.
Koefisien limpasan pada kawasan yang hutan alamnya masih bagus di bawah 0,1%, kalau sebagian hutan sudah dikonversi menjadi sawah koefisien limpasan biasanya bertambah menjadi 30%, dan kalau dikonversi menjadi ruko bisa mencapai 90%, sedikit sekali air yang tertahan.
Konservasi
Untuk menekan dampak deforestasi, menurut  Hidayat Pawitan, pemerintah mesti mengembangkan upaya pelestarian sumberdaya air secara berkelanjutan melalui kegiatan konservasi. Yaitu dimulai dengan konservasi tanah serta rehabilitasi lahan dan hutan, dengan model yang dibuat berdasarkan kondisi awal dari kawasan tersebut.
Tentunya penting juga penegakan hukum terhadap pelaku penebangan ilegal (illegal logging) untuk mencegah perusakan hutan lebih lanjut. Maraknya penebangan ilegal  telah memperparah degradasi dan deforestasi hutan yang sekarang sudah mencapai 59 juta ha dengan laju degradasi tahun 2000-2007 seluas 1,18 juta ha/tahun.
Sejak tahun 1999, menurut San Afri Awang, perambahan hutan ilegal itu marak terjadi sebagai akibat belum diterapkannya tata kelola hutan yang baik dan sesuai menurut kaidah ilmu pengetahuan kehutanan. Kaidah utama tersebut adalah tindakan penataan kawasan hutan menjadi unit-unit manajemen terkontrol. Namun selama ini lebih dari 30 tahun, unit manajemen hutan tropis di luar Jawa tidak diterapkan.
Perusahaan swasta yang mendapat ijin pemerintah hanya menjalankan rencana eksploitasi dan menyerahkan regenerasi tanaman pada alam, perusahaan tidak membangun unit manajemen hutan lestari. Perusahaan swasta ini sebagian besar tidak peduli dengan kelestarian hutan, sementara pengawasan atas eksploitasi hutan dari pemerintah sangat lemah dan tidak sistematis.

Sumber:
http://www.beritabumi.com
Access on Monday, 27 July 2009


Dari artikel di atas, dapat diketahui bahwa semakin lama, bencana alam yang menimpa Indonesia semakin meningkat. Beberapa penyebab terjadinya bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, tsunami dan sebagainya antara lain:
1.Fenomena pemanasan global
2.Dampak dari degradasi dan deforestasi hutan
3.Penebangan ilegal (illegal logging)
4.Kebutuhan air yang meningkat karena pertumbuhan populasi dan peningkatan polusi, sementara kemampuan lahan untuk menahan dan menyimpan air makin rendah, akibat deforestasi dan kerusakan lahan.
5.Perubahan signifikan dalam aspek sosio-ekonomi, lingkungan, klimatologi serta hidrologi yang secara langsung mempengaruhi ketersediaan air permukaan.
Dari artikel di atas diberikan juga beberapa alternatif solusi dalam menghadapi masalah bencana alam ini, antara lain:
1.Konservasi tanah, dan
2.Rehabilitasi lahan dan hutan, dengan model yang dibuat berdasarkan kondisi awal dari kawasan tersebut
Menurut saya sendiri, solusi untuk dapat menganggulangi bencana yang menimpa bangsa Indonesia berkaitan dengan adanya kerusakan lingkungan dimulai dari kesadaran tentang diri sendiri dan perannya dalam kehidupan sosial maupun individual. Manusia di bumi bukan saja merupakan makhluk individu, tetapi juga merupakan makhluk sosial yang setiap saatnya berinteraksi dengan sesamanya. Selain itu, semua manusia itu juga berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya dimana dihuni juga oleh makhluk hidup lainnya seperti tumbuhan, hewan dan jasad renik serta mikroorganisme. Hasil berinteraksi itulah yang menyebabkan lama kelamaan lingkungan mengalami penurunan atau kemerosotan fungsi atau degradasi, sehingga tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini menjadi pemicu terjadinya bencana alam yang berturut-turut menimpa Indonesia.
Oleh karena itu, solusi yang paling tepat untuk menanggulangi bencana ini adalah dengan menanggulangi dahulu akar permasalahannya, yaitu interaksi yang merugikan dari manusia dengan tumbuhan, hewan, mikroorganisme maupun dengan sesamanya. Semuanya akan menjadi baik jika keseimbangan dalam lingkungan dapat dijaga. Salah satu masalah lingkungan yang sering menyebabkan bancana adalah banjir yang disebabkan banyaknya sampah yang menumpuk. Sampah didapatkan dari perilaku manusia yang konsumtif dan asal pakai.
Secara operasional, menurut saya, setiap orang menyadari peran dan posisinya dalam masyarakat yang akan sangat membantu dalam mulai membasmi penyebab kerusakan lingkungan. Misalnya, sebagai ibu rumah tangga, apa yang akan dilakukan dengan plastik bekas pembungkus makanan, atau dia akan memilih untuk membeli makanan yang bungkusannya tidak terbuat dari plastik. Sebagai seorang mahasiswa juga, tentunya sudah berkembang berbagai macam teknologi sehingga segala sesuatu bisa didapatkan dengan praktis, tapi apakah dia sudah pernah berpikir dari mana itu didapatkan dan bagaimana efek sampingnya jika digunakan. Dengan mengetahui hal itu, dia akan lebih berhati-hati dan akan lebih mempertimbangkan apa yang akan dilakukan sebelum dia betul-betul berbuat.
Hal-hal semacam ini juga tergantung pada tingkat pendidikan setiap orang. Budaya, status sosial dan perekonomian juga berpengaruh dalam pikiran seseorang sebelum bertindak. Beberapa hal yang ingin saya sarankan untuk dilakukan masyarakat secara individu dalam bermasyarakat :
1.Jangan membuang sampah sembarangan
2.Setiap rumah buat tempat sampah terpisah antara sampah organik dan non-organik
3.Kurangi membeli barang dengan pembungkus plastik
4.Bagi produsen barang kebutuhan sehari-hari, ganti pembungkusnya dengan kertas atau menggunakan plastik bekas yang didaur ulang
5.Jangan mengambil bahan mentah terlalu banyak dari alam tanpa memperhatikan suplay atau menanam ulang tumbuhan untuk menjaga keseimbangannya
6.Jangan terbiasa menggunakan parfum dengan semprotan
7.Jangan sering menggunakan kulkas
8.Jika memungkinkan jangan terlalu punya banyak mobil. Bila perlu pergi ke kantor gunakan angkutan umum sehingga tidak terlalu menimbulkan pencemaran udara
9.Mulailah menanam tumbuhan atau tanaman apa saja di sekitar rumah sehingga dapat menyediakan O2 yang cukup dan CO2 yang ada dapat diminimalisasi
10.Bagi pemerintah atau LSM dalam bidang lingkungan hidup bisa mulai menggerakkan masyarakat melakukan kegiatan penanaman pohon jangka panjang di hutan ataupun kebun masing-masing sehingga bisa didapatkan 2 keuntungan sekaligus, yaitu bisa mengurangi pencemaran udara dan juga bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan, jika pohon tersebut merupakan tanaman komoditi
11.Bagi para petani bisa disuluhkan pemberian pupuk ataupun insektisida terhadap tanaman sehingga tidak kelebihan dan menjadi racun bagi organisme di sekitarnya, tetapi dapat bermanfaat secara maksimal
12.Bagi pemerintah secara hukum harus dapat menegakan keadilan bagi oknum-oknum yang sengaja melakukan illegal logging
13.Jika berprofesi sebagai guru ataupun dosen terdapat peran yang sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran generasi penerus untuk ikut menjaga lingkungan dari hal-hal sederhana yang dapat dilakukan.


REFERENSI
Berita Bumi
http://www.beritabumi.com
Access on Monday, 27 July 2009
Harian Umum Pelita
http://www.pelita.or.id/baca.php?id=29512
Poskan Komentar