Minggu, 27 September 2009

SAP FISIOLOGI PENCERNAAN

Fisiologi Gastrointestinal Tract
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN (SAP)







Oleh:
Kristiani D Tauho
462007026


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2009
SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
(SAP)

Mata kuliah : Fisiologi
Pokok bahasan : Gastrointestinal Tract
Institusi : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Kristen Satya Wacana
Semester : Empat
Waktu : 45 menit
Hari / Tanggal : Selasa, 11 Agustus 2009
Pendekatan : Deduktif

A. Tujuan
TIU :
Setelah pembelajaran selama 90 menit, mahasiswa mengetahui dan memahami tentang Fungsi Gastrointestinal Tract.
TIK :
Setelah pembelajaran selama 90 menit, mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan :
a.Fungsi pencernaan
Karbohidrat
Protein dan asam nukleat
Lipid
a.Fungsi penyerapan
Karbohidrat
Protein dan asam nukleat
Lipid
Penyerapan air dan elektrolit
Penyerapan vitamin dan mineral
B. Materi
a.Fungsi pencernaan
Karbohidrat
Protein dan asam nukleat
Lipid
b.Fungsi penyerapan
Karbohidrat
Protein dan asam nukleat
Lipid
Penyerapan air dan elektrolit
Penyerapan vitamin dan mineral

C. Metode
Ceramah dan diskusi

D. Alat bantu
Power Point


LAMPIRAN MATERI I

A.Fungsi Gastrointestinal
Sistem gastrointestinal merupakan pintu gerbang masuknya bahan makanan, vitamin, mineral dan cairan ke dalam tubuh. Gastrointestinal mempunyai 2 fungsi utama yaitu pencernaan dan penyerapan berbagai bahan tadi, dengan melibatkan kerja sejumlah besar enzim pencernaan.
1.Karbohidrat
Karbohidrat utama adalah polisakarida, disakarida (laktosa/gula susu dan sukrosa/gula meja) dan monosakarida (fruktosa dan glukosa). Di dalam mulut, zat tepung dicerna oleh α-amilase saliva. Tetapi, pH optimal enzim ini adalah 6,7 sehingga kerjanya dihambat oleh getah lambung yang asam bila makanan masuk ke lambung. Hasil akhir dari pencernaan α-amilase adalah oligosakarida yang terdiri dari Maltosa (disakarida), maltotriosa (trisakarida) dan α-dekstrin. Oligosakarida bertanggungjawab terhadap pencernaan derivat zat tepung selanjutnya terletak di bagian luar brush border yaitu membran mikrovilli usus halus. Beberapa bentuk enzim mempunyai lebih dari satu substrat.
Heksosa dan pentosa cepat diserap melalui dinding usus halus, sebelum sisa makanan mencapai bagian ujung ileum. Molekul-molekul gula bergerak dari sel-sel mukosa ke dalam darah kapiler lalu masuk ke dalam vena porta.transport gula merupakan contoh transport aktif sekunder, energi untuk transport glukosa diperoleh secara tidak langsung, melalui transport aktif Na+ keluar sel. Kadar Na+ intraseluler di dalam usus halus dan sel ginjal rendah, seperti dalam sel-sel lainnya, Na+ bergerak ke dalam sel sesuai dengan beda konsentrasinya. Glukosa bergerak bersama Na+ dan dilepaskan ke dalam sel.
2.Protein dan asam nukleat
Pencernaan protein dimulai di dalam lambung, dengan peptin yang menguraikan beberapa peptida. Pepsin disakresi dalam bentuk prekursor inaktif (proenzim) dan diaktifkan di dalam saluran cerna. Prekursor pepsin dinamakan pepsinogen dan diaktifkan oleh asam hidroklorida lambung. Secara histoimunokimia, pepsinogen terbagi menjadi 2 yaitu pepsinogen I yang hanya ditemukan pada daerah yang menyekresi asam dan pepsinogen II yang ditemukan juga pada daerah pilorus. pH optimum untuk pepsin adalah 1,6-3,2 sehingga kerjanya dapat terhenti bila isi lambung bercampur dengan getah pankreas yang alkali di duodenum dan jejunum.
3.Lipid
Kebanyakan pencernaan lemak dimulai di duodenum, dengan melibatkan enzim lipase (lingual, pankreas, lambung, lipase yang diaktifkan garam empedu). Enzim lipase pankreas bekerja pada lemak yang sudah diemulsikan. Lemak diemulsikan secara halus di dalam usus halus oleh kerja garam empedu, lesitin dan monogliserida. Bila konsentrasi garam empedu dalam usus halus tinggi, seperti setelah kontaksi kandung kemih, lipid dan garam empedu berinteraksi spontan membentuk misel. Pembentukan misel selanjutnya melarutkan lipid dan memungkinkan mekanisme untuk transport ke enterosit. Jadi misel bergerak ke konsentrasi yang lebih rendah melalui lapisan statis ke brush border sel-sel mukosa. Lipid berdifusi keluar dari misel dan mempertahankan kontaknya dengan sel-sel mukosa.
Penyerapan????
4.Penyerapan air dan elektrolit

5.Penyerapan vitamin dan mineral
B.Pengaturan fungsi Sistem Gastrointestinal

LAMPIRAN MATERI II

Mekanisme pencernaan pada saluran pencernaan manusia terdiri dari:
Mulut (cavum oris) dan faring,
Mekanisme mengunyah
Mengunyah atau mastikasi merupakan proses memecahkan partikel makanan besar dan mencampur makanan dan memproses dengan menggunakan bantuan dari secret kelenjar saliva. Otot utama untuk pengunyahan adalah maseter, otot temporalis dan otot pterigoid media dan lateral. Pengunyahan optimal tergantung pada jenis makanan, tapi biasanya berkisar antara 20-25 kali. Dalam proses pengunyahan dibantu oleh enzim saliva yang dihasilkan oleh kelenjar saliva. Saliva mengandung enzim ptyalin.
Granula sekretorik (zimogen) yang mengandung enzim-enzim saliva dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus striata. Saliva memiliki konsentrasi yang mungkin isotonik, dengan konsentrasi Na+, K+, Cl- dan HCO3- yang mirip dengan plasma. Sekresi saliva dikontrol oleh saraf parasimpatis yang disertai dengan vasodilatasi hebat pada kelenjar submandibularis.
Saliva terdiri dari 99,5 % H2O, 0,5 % protein dan elektrolit. Protein saliva terpenting adalah amilase, mukus, dan lisosom, yang menentukan fungsi saliva sebagai berikut :
(1)Saliva memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja amilase saliva, enzim yang memecah polisakarida menjadi disakarida.
(2)Saliva mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel-partikel makanan sehingga menyatu serta menghasilkan pelumasan karena adanya mukus yang kental dan licin.
(3)Saliva mempunyai efek antibakteri oleh lisosom, suatu enzim yang melisiskan atau menghancurkan bakteri dan membilas bahan yang mungkin digunakan bakteri sebagai sumber makanan.
(4)Saliva berfungsi sebagai pelarut untuk molekul-molekul yang merangsang papil pengecap karena hanya molekul dalam larutan yang dapat bereaksi dengan reseptor papil pengecap.
(5)Saliva berperan dalam higiene mulut dengan membantu menjaga kebersihan mulut dan gigi.
(6)Penyangga bikarbonat saliva menetralkan asam pada makanan yang dihasilkan oleh bakteri di mulut sehingga membantu mencegah karies gigi.
Lidah mempunyai beberapa fungsi, antara lain:
Untuk mengaduk makanan yang dikunyah
Membantu menelan makanan
Untuk mengecap rasa makanan
Memindahkan makanan saat dikunyah
Mengontrol suara dan dalam mengucapkan kata-kata
Daerah lidah yang peka terhadap rasa manis terletak di bagian ujung lidah, peka asam dan asin di pinggir lidah serta yang peka terhadap rasa pahit terletak di bagian pangkal lidah.
Mekanisme menelan (faring dan esophagus)
Motilitas yang berkaitan dengan faring dan esofagus adalah menelan atau deglutition. Menelan dimulai ketika bolus didorong oleh lidah ke bagian belakang mulut menuju faring. Tekanan bolus di faring merangsang reseptor tekanan di faring yang kemudian mengirim impuls aferen ke pusat menelan di medula. Pusat menelan kemudian secara refleks mengaktifkan serangkaian otot yang terlibat dalam proses menelan. Menelan dimulai secara volunter, tetapi setelah dimulai proses tersebut tidak dapat dihentikan. Menelan (deglutition) adalah suatu respon reflek yang dicetuskan oleh impuls aferen nervus trigeminus, glosopharingeus dan vagus. .
Menelan dibagi menjadi dua tahap yaitu :
Tahap Orofaring
Tahap orofaring berlangsung sekitar satu detik dan berupa perpindahan bolus dari mulut melalui faring dan masuk ke esofagus, saat menelan ini bolus harus diarahkan ke dalam esofagus dan dicegah untuk masuk ke saluran lain seperti kembali ke mulut, masuk ke saluran hidung, atau masuk ke trakea, dengan cara :
Selama menelan posisi lidah menekan palatum durum untuk mencegah makanan kembali ke mulut.
Uvula elevasi atau terangkat di bagian belakang tenggorokan, sehingga saluran hidung tertutup dari faring dan makanan tidak masuk hidung.
Makanan dicegah masuk trakea terutama oleh elevasi laring dan penutupan pita suara melintasi laring atau glotis. Selama menelan pita suara melaksanakan fungsi yang tidak berkaitan dengan berbicara. Kontraksi otot-otot laring menyebabkan pita suara merapat erat satu sama lain, sehingga pintu masuk glotis tertutup. Selain itu bolus menyebabkan epiglotis tertekan ke belakang menutupi glotis yang mencegah makanan masuk ke saluran pernapasan.
Dengan laring dan trakea tertutup, otot-otot faring berkontraksi untuk mendorong bolus ke dalam esofagus.


Tahap Esofagus
Selanjutnya, makanan masuk ke dalam esophagus karena kerja peristaltic, lingkaran serabut otot di depan makanan mengendor dan di belakang makanan berkontraksi, sehingga gelombang peristaltic menghantarkan bola makanan ke lambung.
Pusat menelan memulai gelombang peristaltik primer yang mengalir dari pangkal ke ujung esofagus, mendorong bolus didepannya melewati esopagus ke lambung. Peristaltik mengacu pada kontraksi berbentuk cincin otot polos sirkuler yang bergerak secara progresif ke depan dengan gerakan mengosongkan, mendorong bolus di depan kontraksi. Dengan demikian pendorongan makanan melalui esopagus adalah proses aktif yang tidak mengandalkan gravitasi. Makanan dapat didorong ke lambung bahkan dalam posisi kepala di bawah. Gelombang peristaltik berlangsung sekitar 5 – 9 detik untuk mencapai ujung bawah esopagus. Kemajuan gelombang tersebut dikontrol oleh pusat menelan melalui persyarafan vagus.
Sekresi esofagus seluruhnya bersifat protektif dan berupa mukus, mukus disekresikan di sepanjang saluran pencernaan. Dengan menghasilkan lubrikasi untuk lewatnya makanan, mukus esofagus memperkecil kemungkinan rusaknya esofagus oleh bagian-bagian makanan yang tajam, mukus juga melindungi dinding esofagus dari asam dan enzim getah lambung apabila terjadi refluks lambung.
Lambung (ventriculus)
Sel kelenjar lambung menyekresikan sekitar 2.500ml getah lambung setiap hari yang mengandung bermacam-macam zat seperti kation (Na+, K+, Mg2+, H+), anion (Cl-, HPO42-, So42-), pepsin, lipase dan mucus.

Sekresi Lambung
Mukosa lambung mempunyai dua tipe kelenjar tubular yang penting, yaitu kelenjar Oksintik (disebut juga kelenjar gastrik) dan kelenjar pilorik. Kelenjar oksintik menyekresi asam hidroklorida, pepsinogen, faktor intrinsik, dan mukus. Kelenjar pilorik terutama menyekresi mukus untuk melindungi mukosa pilorus dari asam lambung. Kelenjar pilorik juga menyekresi hormon gastrin.
Sel-sel parietal secara aktif mengeluarkan HCl ke dalam lumen kantung lambung, hal ini menyebabkan pH lumen turun sampai 2. HCl membantu fungsi pencernaan, antara lain :
Mengaktifkan prekursor enzim pepsinogen menjadi enzim aktif pepsin
Membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat, sehingga partikel makanan berukuran besar dapat dipecah menjadi partikel kecil
Bersama dengan lisososm mematikan sebagian besar mikroorganisme yang masuk bersama makanan
Pepsinogen merupakan enzim inaktif yang disintesa oleh aparatus golgi dan retikulum endoplasma kemudian disimpan di sitoplasma dalam vesikel sekretorik yang dikenal dengan granula zimogen. Pepsinogen mengalami penguraian oleh HCl menjadi enzim bentuk aktif yaitu pepsin. Pepsin berfungsi untuk mengaktifkan kembali pepsinogen (proses otokatalitik) dan sintesa protein dengan memecah ikatan asam amino menjadi peptida.
Sekresi mukus berfungsi sebagai sawar protektif dari cedera terhadap mukosa lambung karena sifat lubrikalis dan alkalisnya dengan menetralisasi HCl yang terdapat didekat mukosa lambung.
Hormon gastrin disekresikan oleh sel-sel gastrin (sel-sel G) yang terletak di daerah kelenjar pilorus lambung, gastrin merangsang peningkatan sekresi getah lambung yang bersifat asam, dan mendorong pertumbuhan mukosa lambung dan usus halus, sehingga keduanya dapat mempertahankan kemampuan sekresi mereka.
Fungsi lambung antara lain:
Menerima makanan dan bekerja sebagai penampung makanan untuk jangka waktu pendek
Semua makanan dicairkan dan dicampurkan dengan asam hidroklorida sehingga siap dicerna dalam usus
Protein diubah menjadi polipeptida
Pencernaan lemak dimulai di dalam lambung
Khime, yaitu isi lambung yang cair disalurkan masuk ke dalam duodenum
Motilitas Lambung
Motilitas lambung bersifat kompleks dan dikontrol oleh beberapa faktor, terdapat empat asfek motilitas lambung, yaitu :
Pengisian Lambung
Volume lambung jika kosong sekitar 50 ml, tetapi organ ini dapat mengembang hingga kapasitasnya mencapai sekitar 1 liter ketika makan. Akomodasi perubahan volume ini akan menyebabkan ketegangan pada dinding lambung dan meningkatkan tekanan intralambung, tapi hal ini tidak akan terjadi karena adanya faktor plastisitas otot polos lambung dan relaksasi resesif lambung pada saat terisi.
Plastisitas adalah kemampuan otot polos mempertahankan ketegangan konstan dalam rentang panjang yang lebar, dengan demikian pada saat serat-serat otot polos lambung teregang pada pengisian lambung, serat-serat tersebut melemas. Peregangan dalam tingkat tertentu menyebabkan depolarisasi sel-sel pemacu, sehingga mendekati potensial istirahat yang membuat potensial gelombang lambat mampu mencapai ambang dan mencetuskan aktivitas kontraktil.
Sifat dasar otot polos tersebut diperkuat oleh relaksasi refleks lambung pada saat terisi. Interior lambung membentuk lipatan-lipatan yang disebut rugae, selama makan rugae mengecil dan mendatar pada saat lambung sedikit demi sedikit melemas karena terisi. Relaksasi refleks lambung sewaktu menerima makanan ini disebut relaksasi resesif.
Penyimpanan Lambung
Selama makanan masuk ke lambung, makanan membentuk lingkaran konsentris makanan di bagian oral lambung, makanan yang paling baru terletak paling dekat dengan pembukaan esofagus dan makanan yang yang paling akhir terletak paling dekat dengan dinding luar lambung. Normalnya bila makanan meregangkan lambung refleks vasovagal dari lambung ke batang otak dan kemudian kembali ke lambung akan mengurangi tonus di dalam dinding otot korpus lambung sehingga dinding menonjol keluar secara progresif, menampung jumlah makanan yang makin lama makin banyak sampai suatu batas saat lambung berelaksasi sempurna, yaitu 0,8 sampai 1,5 liter. Tekanan dalam lambung tetap rendah sampai batas ini tercapai.
Pencampuran Lambung
Kontraksi peristaltik lambung yang kuat merupakan penyebab makanan bercampur dengan sekresi lambung dan menghasilkan kimus. Setiap gelombang peristaltik antrum mendorong kimus ke depan ke arah sfingter pilorus. Apabila kimus terdorong oleh kontraksi peristaltik yang kuat akan melewati sfingter pilorus dan terdorong ke duodenum tetapi hanya sebagian kecil saja. Sebelum lebih banyak kimus dapat diperas keluar, gelombang peristaltik sudah mencapai sfingter pilorus menyebabkan sfingter berkontraksi lebih kuat, menutup dan menghambat aliran kimus ke dalam duodenum.
Sebagian besar kimus antrum yang terdorong ke depan tapi tidak masuk ke duodenum berhenti secara tiba-tiba pada sfingter yang tertutup dan bertolak kembali ke dalam antrum, hanya untuk didorong ke depan dan bertolak kembali pada saat gelombang peristaltik yang baru datang. Gerakan maju mundur tersebut disebut retropulsi, menyebabkan kimus bercampur secara merata di antrum.
Pengosongan Lambung
Kontraksi peristaltik antrum, selain menyebabkan pencampuran lambung juga menghasilkan gaya pendorong untuk mengosongkan lambung. Jumlah kimus yang masuk ke duodenum pada setiap gelombang peristaltik sebelum sfingter pilorus tertutup tergantung pada kekuatan peristaltik. Intensitas peristaltik antrum sangat bervariasi tergantung dari pengaruh berbagai sinyal dari lambung dan duodenum.
Usus halus (intestinum)
Pencernaan di mulut dan lambung diselesaikan di lumen dan sel-sel mukosa halus dan produk pencernaan diserap bersama dengan sebagian besar vitamin dan cairan. Dalam usus halus terdapat sekitar 9 L air setiap hari, terbagi menjadi 2 L dari makanan dan 7 L dari sekresi saluran cerna, tetapi yang sampai ke kolon hanya 1-2 L saja.
Mucus disekresikan oleh sel-sel epitel permukaan di sepanjang saluran cerna oleh kelenjar bruner di duodenum dan oleh sel-sel globet kas di mukosa usus halus dan usus besar. Mucus berfungsi untuk melumasi, mengikat beberapa bakteri dan menahan imunoglobin di tempatnya sehingga dapat berikatan dengan pathogen.
Usus halus terbagi menjadi tiga segmen yaitu Duodenum, Jejenum dan Ilieum. Pada usus halus ini terjadi sebagian besar pencernaan dan penyerapan.

Motilitas Usus Halus
Segmentasi adalah metode motilitas utama usus halus yaitu proses mencampur dan mendorong secara perlahan kimus, dengan cara kontraksi bentuk cincin otot polos sirkuler di sepanjang usus halus, diantara segmen yang berkontraksi terdapat daerah yang berisi kimus. Cincin-cincin kontraktil timbul setiap beberapa sentimeter, membagi usus halus menjadi segmen-segmen seperti rantai sosis. Segmen-segmen yang berkontraksi, setelah jeda singkat, melemas dan kontraksi kontraksi berbentuk cincin kemudian muncul di daerah yang semula melemas. Perjalanan isi usus biasanya memerlukan waktu 3-5 jam untuk melintasi seluruh panjang usus halus, sehingga tersedia cukup waktu untuk berlangsungnya proses pencernaan dan penyerapan.
Sekresi Usus Halus
Sekresi usus halus tidak mengandung enzim pencernaan, kelenjar eksokrin yang terletak di mukosa usus halus mengeluarkan sekitar 1,5 liter larutan garam dan mukus cair (sukus enterikus) ke dalam lumen. Mukus berfungsi sebagai proteksi dan lubrikasi.
Digesti Usus Halus
Pencernaan di dalam lumen usus halus dilaksanakan oleh enzim-enzim pankreas dan sekresi empedu. Enzim pankreas meyebabkan lemak direduksi menjadi satuan-satuan monogliserida dan asam lemak bebas yang dapat diserap, protein diuraikan menjadi fragmen peptida kecil dan beberapa asam amino, dan karbohidrat direduksi menjadi disakarida dan beberapa monosakarida. Dengan demikian proses pencernaan lemak selesai dalam lumen usus halus tapi pencernaan protein dan karbohidrat belum.
Dari permukaan luminal sel-sel epitel usus halus terbentuk tonjolan-tonjolan seperti rambut yang disebut Brush Border, yang mengandung tiga kategori enzim, yaitu :
Enterikinase, mengaktifkan enzim pankreas tripsinogen
Golongan disakaridase (sukrose, maltase dan laktase), yang menyelesaikan pencernaan karbohidrat dengan menghidrolisis disakarida yang tersisa menjadi monosakarida penyusunnya
Golongan aminopeptidase, yang menghidrolisis peptida menjadi komponen asam aminonya, sehingga pencernaan protein selesai
Absorpsi Usus Halus
Semua produk pencernaan karbohidrat, protein dan lemak serta sebagian besar elektrolit, vitamin dan air dalam keadaan normal diserap oleh usus halus. Sebagian besar penyerapan berlangsung di duodenum dan jejenum, dan sangat sedikit yang berlangsung di ilieum.
Penyerapan Garam dan Air
Air diabsorpsi melalui mukosa usus ke dalam darah hampir seluruhnya melalui osmosis. Natrium diserap secara transpor aktif dari dalam sel epitel melalui bagian basal dan sisi dinding sel masuk ke dalam ruang paraseluler. Sebagian Na diabsorpsi bersama dengan ion klorida, damana ion klorida bermuatan negatif secara pasif ditarik oleh muatan listrik positif ion natrium.
Penyerapan Karbohidrat
Karbohidrat diserap dalam bentuk disakarida maltosa, sukrosa, dan laktosa. Disakaridase yang ada di brush border menguraikan disakarida ini menjadi monosakarida yang dapat diserap yaitu glukosa, galaktosa dan fruktosa. Glukosa dan galaktosa diserap oleh transportasi aktif sekunder sedangkan fruktosa diserap melalui difusi terfasilitasi.
Penyerapan Protein
Protein diserap di usus halus dalam bentuk asam amino dan peptida, asam amino diserap menembus sel usus halus melalui transpor aktif sekunder, peptida masuk melalui bantuan pembawa lain dan diuraikan menjadi konstituen asam aminonya oleh aminopeptidase di brush border atau oleh peptidase intrasel, dan masuk ke jaringan kapiler yang ada di dalam vilus.
Dengan demikian proses penyerapan karbohidrat dan protein melibatkan sistem transportasi khusus yang diperantarai oleh pembawa dan memerlukan pengeluaran energi serta kotransportasi Na.
Penyerapan Lemak
Lemak diabsorpsi dalam bentuk monogliserida dan asam lemak bebas, keduanya akan larut dalam gugus pusat lipid dari misel empedu, dan zat-zat ini dapat larut dalam kimus. Dalam bentuk ini, monogliserida dan asam lemak bebas ditranspor ke permukaan mikrovili brush border sel usus dan kemudian menembus ke dalam ceruk di antara mikrovili yang bergerak. Dari sini keduanya segera berdifusi keluar misel dan masuk ke bagian dalam sel epitel. Proses ini meninggalkan misel empedu tetap di dalam kimus, yang selanjutnya akan melakukan fungsinya berkali-kali membantu absorpsi monogliserida dan asam lemak.
Penyerapan Vitamin
Vitamin yang larut dalam air diabsorpsi secara pasif bersama air, sedangkan yang larut dalam lemak diabsorpasi secara pasif dengan produk akhir pencernaan lemak.
Penyerapan Besi dan Kalsium
Absorpsi besi dan kalsium tergantung pada kebutuhan tubuh akan elektrolit tersebut.
Usus besar (colon)
Bagian pertama makanan mencapai sekum dalam waktu sekitar 4 jam dan semua bagian yang tidak tercerna telah masuk kolon dalam 8-9 jam. Rata-rata sisa makanan yang pertama mencapai fleksura hepatica dalam 6 jam, fleksura lienalis dalam 9 jam dan kolon sigmoid dalam 12 jam. Dari kolon sigmoid menuju ke anus pengangkutan makanan jauh lebih lambat. Kapasitas penyerapan mukosa pada kolon sangat besar. Na+ secara aktif diangkut keluar kolon, dan air mengikuti gradient osmotic yang terjadi. Daya serap kolon menjadikan pemberian obat per rectum sebagai cara pemberian obat yang praktis, terutama pada anak-anak.
Jejunum secara normal mengandung bakteri sedikit atau tidak sama sekali, di ileum lebih banyak, tetapi hanya di kolon yang selalu mengandung bakteri dalam jumlah besar.
Usus besar terdiri dari kolon, sekum, apendiks dan rektum. Rata-rata kolon menerima sekitar 500 ml kimus dari usus halus setiap harinya, isi usus yang disalurkan ke kolon terdiri dari residu makanan yang tidak dapat dicerna (misal selulosa), komponen empedu yang tidak diserap dan sisa cairan, bahan ini akhirnya yang disebut feses.
Motilitas Usus Besar
Gerakan usus besar umumnya lambat dan tidak propulsif, sesuai dengan fungsinya sebagai tempat absorpsi dan penyimpanan. Motilitas yang terjadi pada kolon adalah kontraksi haustra yaitu gerakan mengaduk isi kolon dengan gerakan maju mundur secara perlahan yang menyebabkan isi kolon terpajan ke mukosa absortif.
Peningkatan motilitas terjadi setiap 3-4 kali sehari setelah makan yaitu terjadi kontraksi simultan segmen-segmen besar di kolon asendens dan transversum sehingga feses terdorong sepertiga sampai seperempat dari panjang kolon, gerakan ini disebut gerakan massa yang mendorong isi kolon ke bagian distal usus besar sebagai tempat defekasi. Sewaktu gerakan masa di kolon mendorong isi kolon ke dalam rektum, terjadi peregangan rektum dan merangsang reseptor regang di dinding rektum serta memicu refleks defekasi.
Sekresi Usus Besar
Sekresi kolon terdiri dari larutan mukus alkalis (HCO3-) yang fungsinya adalah melindungi mukosa usus besar dari cedera kimiawi dan mekanis, juga menghasilkan pelumasan untuk memudahkan feses lewat.
Absorpsi Usus Besar
Dalam keadaan normal kolon menyerap sebagian besar garam dan air. Natrium zat yang paling aktif diabsorpsi dan, Klorida diabsorpsi secara pasif mengikuti penurunan gradien listrik, dan air diabsorpsi secara osmosis.
Rectum
Peregangan rectum oleh feses akan mencetuskan kontraksi refleks otot-otot rectum dan keinginan buang air besar. Keinginan berdefekasi pertama kali muncul saat tekanan rectum meningkat sampai sekitar 18 mmHg. Apabila tekanan ini mencapai 55 mmHg, sfingkter eksternus maupun internus akan melemas dan isi rektum akan terdorong keluar.
Muara pelepasan (anus)
Poskan Komentar