Minggu, 06 November 2016

Ume Kbubu, rumahnya Atoin Meto

Ume kbubu (rumah bulat) adalah rumah atoin meto berbentuk setengah bulat. Ukuran ume kbubu biasanya tidak terlalu besar, dengan diameter sekitar 3 atau 4 meter dengan tinggi 2,5-3 meter. Ume kbubu hanya terdiri atas 1 ruang utama tanpa sekat di bagian bawah dan 1 ruang atas sebagai lumbung. Jika masuk ke dalam ume kbubu, terdapat beberapa elemen yang pasti ditemukan, yaitu sebuah tungku dengan perapian yang menyala di tengah-tengah ruang. Di samping kanan dan kiri bisa ditemukan tempat tidur, kemudian di bagian belakang ruang ume kbubu bisa ditemukan berbagai peralatan memasak. Kita juga akan menemukan beberapa tempat duduk pendek yang terbuat dari papan sebagai tempat duduk.
Pembuatan ume kbubu bisa diselesaikan dalam waktu 2 sampai 3 minggu dengan bahan-bahan yang semuanya diperoleh dari hutan. Alang-alang untuk atap ume kbubu bisa bertahan 7 sampai 10 tahun sebelum mengalami kerusakan. Atap ume kbubu terbuat dari alang-alang hingga ke tanah, sedangkan dindingnya terbuat dari belahan bambu. Terdapat 4 tiang yang digunakan sebagai penyangga utama dari ume kbubu. Menurut hasil penelitian Dima dkk (2013) di Kabupaten Timor Tengah Utara hanya terdapat 1 tiang utama (ni enaf) yang tingginya mencapai puncak ume kbubu). Tiang-tiang tersebut merupakan potongan batang pohon kasuari, berukuran sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah dengan diameter sekitar 10cm. 
Ume Kbubu

Pembuatan ume kbubu (di daerah Timor Tengah Selatan) biasanya dimulai dengan mendirikan ke-4 tiangnya terlebih dahulu dengan menanamnya sedalam 20-30cm di dalam tanah. Setiap pasang tiang (ni enaf) dihubungkan dengan kayu bulat yang ukurannya sama atau sedikit lebih kecil di atasnya. Ke-2 kayu bulat di atas ni enaf ini disebut tfa. Secara melintang diikatkan 4 buah batang kayu bulat lainnya sebagai dasar dari loteng yang disebut nonof, kemudian sebuah tiang ditempatkan di tengah-tengahnya secara vertical. Dalam bahasa Dawan, tiang ini dinamakan pauf. Sebuah kayu bulat atau bambu kecil yang panjang diikatkan mengelilingi dasar lumbung tersebut sehingga berbentuk bulat (ne’u).
Bagian dinding terdiri dari 8 tiang kecil (ni ana). Dua tiang kecil ditanam di pintu, sedangkan 6 lainnya disebar sesuai dengan luas rumah bulat. Bila ukuran rumah semakin besar, jumlah ni ana ini juga disesuaikan. Sebuah ne’u dipasang di sekeliling ni ana ini. Ne’u terakhir dipasang di bagian puncak ume kbubu, sehingga total ne’u dalam sebuah ume kbubu adalah 3 buah, bagian dasar, bagian tengah (loteng) dan bagian puncak. Selanjutnya pekerjaan dilanjutkan dengan memasang suafSuaf adalah kayu bulat panjang hingga hampir menyentuh tanah. Jumlahnya sekitar 24 batang dan dipasang secara terbalik, yaitu dengan memasang ujungnya di bagian paling atas atap, sedangkan pangkalnya di bagian bawah. Setelah semua kayu bulat terpasang, dilanjutkan dengan memasang bilahan bambu secara melintang setiap 0,5meter di sepanjang kayu-kayu bulat tersebut. Bilahan-bilahan bambu yang disebut tampani tersebut dipasang dengan cara diikat menggunakan atau yang sering disebut tali hutan. Pada tahap ini pengerjaan rangka telah selesai dilakukan.
Pemasangan atap dilakukan dari bilahan bambu yang paling bawah. Alang-alang yang sudah dibersihkan   sebesar 1 genggam diikatkan ke bilahan bambu tersebut mengarah ke bawah. Hal tersebut dilakukan hingga bilahan bambu bagian bawah selesai dipasang, kemudian dilanjutkan dengan bilahan bambu di atasnya hingga selesai. Dengan memasang alang-alang atap demi tahap, maka alang-alang akan saling tindih-menindih sehingga mencegah kebocoran. Bagian paling puncak dari atap dibuat sedemikian rupa, sehingga alang-alangnya terikat dengan rapi dan tidak meninggalkan ruang kosong. Akhirnya alang-alang di depan pintu masuk dipotong sesuai ukuran pintu, sedangkan bagian lain yang hampir menyentuh tanah dipotong rapi saja. 
Bagian terakhir dari pembuatan ume kbubu adalah memasang dinding atau nikit. Bilahan bambu yang sudah berupa lembaran-lembaran dibalutkan dari luar tiang-tiang kecil membentuk lapisan dinding dengan cara diikat menggunakan tali hutan juga. Di bagian depan, antara 2 tiang kecil dipasang sebuah pintu dari papan yang cukup kecil dan pendek, sekitar 1 meter, sehingga seseorang perlu berhenti sejenak di depannya sebelum masuk dan masuk dengan cara membungkukkan badan. Menurut masyarakat atoin meto, pintu berukuran kecil dan pendek tersebut adalah sebagai pengingat bagi setiap orang yang masuk agar menghormati hasil panen yang tersimpan di lumbung ume kbubu tersebut (Situmeang, 2013).
Hal yang perlu diingat dalam pembuatan ume kbubu menurut keyakinan orang Amanuban (salah satu dari 3 sub etnis di TTS) adalah keyakinan bahwa pembuatan ume kbubu harus dilakukan sesuai dengan aturan yang sudah ada secara turun temurun. Salah satunya adalah jumlah kayu yang digunakan dalam pembuatan rumah bulat harus berjumlah genap (ni enaf 4 buah, ni ana 8 buah, tfa 2 buah, nonof 4 buah suaf 24 buah). Jika tidak mematuhi aturan tersebut, maka pemilik rumah akan mengalami musibah, seperti penyakit dan bahkan kematian.

Beberapa referensi publikasi hasil penelitian mengenai ume kbubu sebagai berikut:

  1. Dima, Thomas Kurniawan, Antariksa, Agung Murti Nugroho. KONSEP RUANG UME KBUBU DESA KAENBAUN KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA. Jurnal RUAS, Volume 11 No 1, Juni 2013, ISSN 1693-3702
  2. Saraswati, Titien.  THE OCCURRENCE OF “EMPATHICED, MODERN” BUILDINGS INSIDE TRADITIONAL ENVIRONMENT IN BOTI VILLAGE,  TIMOR ISLAND. DIMENSI − Journal of Architecture and Built Environment, Vol. 42, No. 1, July 2015, 9-14 DOI: 10.9744/dimensi.42.1.9-14 ISSN 0126-219X (print) / ISSN 2338-7858 (online)
  3. SITUMEANG, VANIA SARAH N. UME KBUBU:  HOUSEHOLD GRANARY AND FOOD SECURITY  IN TIMOR TENGAH SELATAN. A Thesis.  Department of International Studies  and the Graduate School of the University of Oregon. June 2013
Poskan Komentar